12/1/16

Nasehat mulia Syech Abdul Qodir Aljaelani

Syekh abdul Qodir Al-Jaelani Lahir pada tahun1077 M/469 H. dimana saat kelahirannya sang ibu sudah mencapai usia 60 tahun di sebuah tempat bernama Jailan, itulah mengapa di balakang namanya terdapat julukan al-jaelani karena sesuai kebiasaan penduduk arab masa itu yang biasa menambahkan nama mereka sesuai dengan tempat tinggalnya. Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani wafat pada malam sabtu, 10 Rabiul Awwal 561 H, di usiannya yang ke 90 tahun dikarenakan sakit ringan dalam waktu yang relatif singkat.

Seorang ulama Ibnul Imad menyebutkan bahwa nama lengkap syekh ini adalah Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailani.

Dalam usia 18 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali , yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali . Di Baghdad dia belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil , Abul Khatthat , Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim . Dia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat dia. Banyak pula orang yang bersimpati kepada dia, lalu datang menimba ilmu di sekolah dia hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani atau nama sebenar beliau ialah Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir. Beliau adalah keturunan Rasulullah SAW melalui puteri Baginda Siti Fatimah Al-Zahra. Beliau adalah seorang ahli sufi yang tidak asing lagi di dunia islam, sehingga terdapat satu aliran Tariqat yang diasaskannya yaitu Tarikat Qadariah. Tulisan, nasihat dan buah fikiran beliau berkenaan dengan ketuhanan dan tasawuf senantiasa mendapat perhatian dan menjadi rujukan walaupun beliau telah wafat lebih kurang 900 tahun yang lampau.

Sebagai seorang ulama terkenal dimasa lalu hingga kini pun masih dikenang oleh kaum muslimin di seluruh dunia, karena ke shalihannya dan keilmuannya yang sangat tinggi dalam bidang ilmu dan hikmah, terutama bidang tasawuf dalam islam. Begitu juga nasehat beliau masih terdengar dan jadi panutan bagi sebagian besar kaum muslim dunia, sungguh indah mengenang beliau karena kesholehannya, nasehatnya juga amalan sholeh beliau.

Nasehat Syech Abdul Qodir Al-Jaelani sungguh begitu dalam maknanya dan isinya sungguh mengisi ruang hati.

“Makhluk dan Khaliq tidak berkumpul. Dunia dan akhirat juga tidaklah berkumpul dalam satu hati. Ada kalanya makhluk dan ada kalanya Khaliq di hatimu. Ada kalanya dunia dan ada kalanya akhirat. Ada kalanya terbayang bahawa makhluk ada di lahirmu sedang Khaliq di hatimu. Dunia di tanganmu sedang akhirat di hatimu. Adapun di dalam hati, kedua-duanya tidak berkumpul. Lihatlah kepada jiwamu dan pilihkan untuknya, jika ia menghendaki dunia maka keluarlah akhirat dari hatimu. Jika ia menghendaki akhirat maka keluarkanlah dunia dari hatimu. Jika ia menghendaki Tuhan maka keluarkanlah dunia, akhirat dan apa yg selainNya dari hati.
Selagi di dalam hatimu masih ada sebesar semut yang selain Allah, maka kamu tidak melihat dekatnya Allah di sisimu, dan tidak bangkit kejinakan dan ketenangan kepada-Nya. Selagi di dalam hatimu masih ada dunia sebesar semut kecil, maka kamu tidak melihat akhirat di hadapanmu. Dan selagi di dalam hatimu terdapat akhirat sebesar semut kecil, maka kamu tidak melihat dekat kepada Allah".

“Orang yang zuhud itu berpuasa dari makan dan minum, sedangkan orang yang arif itu berpuasa tanpa diketahui.
Puasa orang zuhud itu siang hari, sedangkan puasa orang arif itu siang dan malam. Ia tidak berbuka dari puasanya sehingga ia bertemu Tuhannya.
Orang yang arif itu puasa tahunan, selalu demam. Puasa tahunan dengan hatinya, demam dengan rahsianya, dan ia tahu bahawa sembuhnya itu adalah dengan bertemu Tuhannya dan dekat kepada-Nya".

"Lelah itu selama kamu berkemauan untuk menuju dan berjalan kepada-Nya. Apabila kamu telah sampai dan habis jarak perjalananmu dan kamu berada di dalam rumah dekat dengan Tuhanmu maka hilanglah beban itu.
Maka tetaplah terhibur dengan-Nya yg berada di dalam hatimu, dan kamu akan bertambah sehingga kamu mengambil sesuatu di samping-Nya. Mulanya kamu kecil kemudian menjadi besar. Apabila kamu sudah besar maka hati penuh dengan Allah, maka tidak ada jalan dan tidak ada sudut bagi hati untuk selain-Nya.
Jika kamu ingin sampai kepada ini, maka jadilah kamu mengikut perintah-Nya, mencegah segala larangan-Nya, berserah diri kepada-Nya dalam kebaikan dan keburukan, kaya dan fakir, mulia dan hina".

”Wahai anak! Apabila kamu tidak memiliki Islam maka kamu tidak memiliki iman. Dan bila kamu tidak memiliki iman maka kamu tidak memiliki keyakinan. Apabila kamu tidak memiliki keyakinan maka kamu tidak mempunyai makrifat dan pengetahuan-Nya. Ini adalah bertingkat-tingkat. Apabila Islam telah benar bagimu, maka penyerahan itu telah benar bagimu. Jadilah kamu orang yang berserah diri kepada Allah dalam seluruh keadaanmu disertai dengan memelihara batas-batas syarak dan menepati syarak itu. Serahkan kepada-Nya akan hak jiwamu dan selainmu. Perbaikilah kesopanan terhadap-Nya dan makhluk-Nya. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap dirimu dan orang lain karena perbuatan aniaya itu kegelapan di dunia dan di akhirat".

“Janganlah kamu melihat amalmu, walaupun anggota-anggota badanmu bergerak untuk amal dan hatimu beserta Zat yang mana amal itu ditujukan kepada Allah. Apabila hal ini sempurna bagimu maka hatimu menjumpai mata yang dapat melihat. Makna menjadi bentuk, yang ghaib menjadi hadir, berita menjadi terang. Hamba apabila baik kerana Allah maka Dia bersamanya dalam semua keadaan. Dia mengubahnya, menggantikannya dan memindahkannya dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Seluruhnya menjadi berarti, seluruhnya menjadi keimanan, keyakinan, pengetahuan, pendekatan dan kesaksian. Seluruhnya menjadi siang tanpa malam, sinar tanpa gelap, jernih tanpa keruh, hati tanpa nafas, rahsia tanpa kasar, fana tanpa wujud, ghaib tanpa hadir. Seluruhnya menjadi kitab ghaib dari mereka dan dirinya. Seluruh ini pangkalnya adalah jinak kepada Allah sehingga kejinakan ini sempurna antara kamu dan Allah".

“Ubahlah karena-Nya sesuatu yang Dia benci dari nafsumu sehingga Dia memberimu apa yang kamu sukai. Jalan itu luas. Berdirilah dan teguhlah. Beramallah dan jangan lalai selama tali dengan dua ujungnya di tanganmu. Mohonlah pertolongan kepada-Nya atas sesuatu yang menjadikan kebaikanmu. Kendalikanlah nafsumu, jika tidak, ia akan mengendalikan kamu. Nafsu itu tukang memerintahkan keburukan di dunia dan tukang mencela di akhirat".

“Bersopanlah yang baik terhadap-Nya dan terhadap makhluk-Nya. Sedikitlah berbicara yang tidak berguna bagimu".

”Orang-orang yang meninggalkan amal dalam keadaan berilmu, ilmu itu akan melupakanmu dan berkahnya hilang dari hatimu. Wahai orang-orang yang bodoh! seandainya kamu mengetahui-Nya nescaya kamu mengetahui siksaan-siksaan-Nya".

“Syirik itu ada kalanya pada lahir dan batin. Syirik lahir ialah menyembah berhala sedangkan syirik batin ialah berpegang kepada makhluk dan memandang mereka dapat memberi kemudaratan dan manfaat".

“Wahai anak! Janganlah kamu menuntut sesuatu kepada seseorang. Dan jika kamu mampu untuk memberi dan tidak mengambil maka lakukanlah. Kamu melayani dan kamu tidak minta dilayani oleh orang lain maka lakukanlah".

"Suatu kaum itu disibukkan untuk memberi kepada makhluk. Mereka mengambil dan memberi. Mengambil dari kurnia dan rahmat Allah dan memberikan kepada fakir dan miskin yang ditimpa kesempitan.
Mereka tunaikan hutang orang yang berhutang yang tiada kuasa untuk melunaskannya.
Mereka adalah raja-raja, bukan raja-raja dunia kerana raja-raja dunia itu mengambil dan tidak memberi, sedangkan kaum itu mengutamakan orang lain dan menunggu-nunggu orang yang tidak hadir.
Mereka mengambil dari tangan Allah bukan tangan makhluk. Usaha anggota badan mereka untuk makhluk, sedangkan usaha hati mereka untuk mereka sendiri. Mereka berinfak (memberikan harta) itu kerana Allah bukan kerana hawa nafsu, bukan kerana pujian dan sanjungan.
Tinggalkan kaum yang sombong terhadap Allah dan terhadap makhluk, kerana sombong itu termasuk sifat orang-orang pemaksa yang mana mereka dibenamkan ke dalam neraka jahanam. Apabila kamu marah kepada Allah maka kamu sombong kepada-Nya".

“Jadikanlah akhiratmu itu sebagai modalmu, dan jadikan dunia itu sebagai keuntunganmu. Gunakanlah seluruh waktumu untuk menghasilkan akhiratmu. Lalu apabila dari waktumu itu ada sedikit yang tersisa, maka gunakanlah untuk berusaha dalam urusan duniamu dan mencari penghidupanmu".

“Nasihatilah dirimu terlebih dahulu barulah kemudian menasihati orang lain. Kamu harus lebih memperhatikan nasib dirimu. Janganlah kamu menoleh pada orang lain sedangkan dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki".

Sumber artikel: www.kangsapak.com

11/23/16

Cara berdakwak sunan Kudus

 Berikut cara berdakwah sunan kudus pada masa masih kuatnya pengaruh hindu budha pada waktu itu:



A. Strategi Pendekatan kepada Massa

Sunan Kudus termasuk pendukung gagasan, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang yang menerapkan strategi dakwah kepada masyarakat sebagai berikut :

1. Membiarkan dulu adat istiadat dan kepercayaan lama yang sukar dirubah. Mereka sepakat untuk tidak mempergunakan jalan kekerasan atau radikal menghadapi masyarakat yang demikian.

2. Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi mudah dirubah maka segera dihilangkan.

3. Tut Wuri Handayani, artinya mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit dan menerapkan prinsip Tut Wuri Hangiseni, artinya mengikuti dari belakang sambil mengisi ajaran agama Islam.

4. Menghindarkan konfrontasi secara langsung atau secara keras didalam cara menyiarkan agama Islam. Dengan prinsip mengambil ikan tetapi tidak mengeruhkan airnya.

5. Pada akhirnya boleh saja merubah adat dan kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi dengan prinsip tidak menghalau masyarakat dari umat Islam. Kalangan umat Islam yang sudah tebal imannya harus berusaha menarik simpati masyarakat non muslim agar mau mendekat dan tertarik dengan ajaran Islam. Hal itu tak bisa mereka lakukan kecuali dengan konsekuen. Sebab dengan melaksanakan ajaran Islam secara lengkap otomatis tingkah laku dan gerak-gerik mereka sudah merupakan dakwah nyata yang dapat memikat masyarakat non-muslim.

Strategi dakwah ini diterapkan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Karena siasat mereka dalam berdakwah tak sama dengan garis yang ditetapkan oleh Sunan Ampel maka mereka disebut kaum Abangan atau Aliran Tuban. Sedang pendapat Sunan Ampel yang didukung Sunan Giri dan Sunan Drajad disebut Kaum Putihan atau Aliran Giri.

Namun atas inisiatif Sunan Kalijaga, kedua pendapat yang berbeda itu pada akhinya dapat dikompromikan.

B. Merangkul Masyarakat Hindu

Di Kudus pada waktu itu penduduknya masih banyak yang beragama Hindu dan Budha. Untuk mengajak mereka masuk Islam tentu bukannya pekerjaan mudah. Terlebih mereka yang masih memeluk kepercayaan lama dan memegang teguh adat-istiadat lama, jumlahnya tidak sedikit. Di dalam masyarakat seperti itulah Ja’far Sodiq harus berjuang menegakkan agama.

Pada suatu hari Sunan Kudus atau Ja’far Sodiq membeli seekor sapi (dalam riwayat lain disebut Kebo Gumarang). Sapi tersebut berasal dari Hindia, dibawa para pedagang asing dari kapal besar.

Sapi itu ditambatkan dihalaman rumah Sunan Kudus.

Rakyat Kudus yang kebanyakan beragama Hindu itu tergerak hatinya, ingin tahu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus terhadap sapi itu. Sapi dalam pandangan Hindu adalah hewan suci yang menjadi kendaraan para dewa. Menyembelih sapi adalah perbuatan dosa yang dikutuk para dewa. Lalu apa yang dilakukan Sunan Kudus?

Apakah Sunan Kudus hendak menyembelih sapi dihadapan rakyat yang kebanyakan justru memujanya dan menganggap binatang keramat. Itu berarti Sunan Kudus melukai hati rakyatnya sendiri.

Dalam tempo singkat halaman rumah Sunan Kudus dibanjiri rakyat, baik yang beragama Islam maupun Budha. Setelah jumlah penduduk yang datang bertambah banyak, Sunan Kudus keluar dari dalam rumahnya.

Sedulur-sedulur yang saya hormati, segenap sanak kadang yang saya cintai, Sunan Kudus membuka suara. Saya melarang saudara-saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi. Sebab diwaktu saya masih kecil, saya pernah mengalami saat yang berbahaya, hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya.

Mendengar cerita tersebut para pemeluk agama Hindu terkagum-kagum. Mereka menyangka Ja’far Sodiq itu adalah titisan dewa Wisnu, maka mereka bersedia mendengarkan ceramahnya. Demi rasa hormat saya kepada jenis hewn yang pernah menolong saya, maka dengan ini saya melarang penduduk Kudus menyakiti atau menyembelih sapi.

Kontan para penduduk terpesona atas kisah itu.

Sunan kudus melanjutkan, salah satu diantara surat-surat Al-Qur’an yaitu surat yang kedua dinamakan Surat Sapi atau dalam bahasa Arabnya Al-Baqarah, kata Sunan Kudus.

Masyarakat semakin tertarik. Kok ada sapi di dalam Al-Qur’an mereka menjadi ingin tahu lebih banyak dan untuk itulah mereka harus sering-sering datang mendengarkan keterangan Sunan Kudus.

Demikianlah, sesudah simpati itu berhasil diraih akan lapanglah jalan untuk mengajak masyarakat berduyun-duyun masuk agama Islam.

Bentuk mesjid yang dibuat Sunan Kudus pun tak jauh bedanya dengan candi-candi milik orang Hindu. Lihatlah menara Kudus yang antik itu, yang hingga sekarang dikagumi orang di seluruh dunia karena keanehannya. Dengan bentuknya yang mirip candi itu orang-orang Hindu merasa akrab dan tidak takut atau segan masuk ke dalam mesjid guna mendengarkan ceramah Sunan Kudus.

C. Merangkul Masyarakat Budha

Sesudah berhasil menarik umat Hindu kedalam agama Islam hanya karena sikap toleransi yang tinggi, yaitu menghormati sapi yang dikeramatkan umat Hindu dan membangun menara mesjid mirip dengan candi Hindu. Kini Sunan Kudus bermaksud menjaring umat Budha. Caranya? Memang tidak mudah, harus kreatif dan tidak bersifat memaksa.

Sesudah mesjid berdiri, Sunan Kudus membuat padasan atau tempat wudhu dengan pancuran yang berjumlah delapan. Masing-masing pancuran diberi arca kepala kebo gumarang diatasnya. Hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha, “Jalan berlipat delapan” atau Sanghika Marga” yaitu :

1. Harus memiliki pengetahuan yang benar
2. Mengambil keputusan yang benar
3. Berkata yang benar
4. Hidup dengan cara yang benar
5. Bekerja dengan benar
6. Beribadah dengan benar
7. Dan menghayati agama dengan benar.

Usahanya pun membuahkan hasil, banyak umat Budha yang penasaran, untuk itu Sunan Kudus memasang lambang wasiat Budha itu di padasan atau tempat berwudhu, sehingga mereka berdatangan ke mesjid untuk mendengarkan keterangan Sunan Kudus.

D. Selamatan Mitoni

Didalam cerita tutur disebutkan bahwa Sunan Kudus itu pada suatu ketika gagal mengumpulkan rakyat yang masih berpegang teguh pada adat istiadat lama.

Seperti diketahui, rakyat jawa banyak melakukan adat istiadat yang aneh, yang kadang kala bertentangan dengan ajaran Islam, misalnnya berkirim sesaji dikuburan untuk menunjukkan bela sungkawa atau berduka cita atas meninggalnya salah seorang anggota keluarga, selamatan neloni. Mitoni dan lain-lain. Sunan Kudus sangat memperhatikan upacara-upacara ritual tersebut dan berusaha sebaik-baiknya untuk merubah atau mengarahkannya dalam bentuk Islami. Hal ini dilakukan juga oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.

Contohnya, bila seorang isteri orang jawa hamil tiga bulan maka akan dilakukan acara selamatan yang disebut mitoni sembari minta kepada dewa bahwa bila anaknya lahir supaya tampan seperti Arjuna, jika anaknya perempuan supaya cantik seperti Dewi Ratih.

Adat tersebut tidak ditentang secara keras oleh Sunan Kudus. Melainkan diarahkan dalam bentuk Islami. Acara selataman boleh terus dilakukan tapi niatnya bukan sekedar kirim sesaji kepada para dewa, melainkan bersedekah kepada penduduk setempat dan sesaji yang dihidangkan boleh dibawa pulang. Sedangkan permintaannya langsung kepada Allah dengan harapan anaknya lahir laki-laki akan berwajah seperti nabi Yusuf, dan bila perempuan seperti Siti Maryam ibunda Nabi Isa. Untuk itu sang ayah dan ibu harus sering membaca surat Yusuf dan surat Maryam dalam Al-Qur’an.

Sebelum acara selamatan dilaksanakan diadakanlah pembacaan Layang Ambiya atau sejarah para Nabi. Biasanya yang dibaca adalah bab Nabi Yusuf. Hingga sekarang acara pembacaan Layang Ambiya yang berbentuk tembang Asmarandana, Pucung dll itu masih hidup di kalangan masyarakat pedesaan.

Berbeda dengan cara lama, pihak tuan rumah membuat sesaji dari berbagai jenis makanan, kemudian diikrarkan (hajatkan dihajatan) oleh sang dukun atau tetua masyarakat setelah upacara sakral itu dilakukan sesajinya tidak boleh dimakan melainkan diletakkan di candi, di kuburan atau tempat-tempat sunyi dilingkungan tuan rumah.

Ketika pertama kali melaksanakan gagasannya, Sunan Kudus pernah gagal, yaitu beliau mengundang seluruh masyarakat. Baik yang Islam maupun yang Hindu dan Budha ke dalam mesjid. Dalam undangan disebutkan hajat Sunan Kudus yang hendak Mitoni dan bersedekah atas hamilnya sang isteri yang telah tiga bulan.

Sebelum masuk mesjid, rakyat harus membasuh kaki dan tangannya dikolam yang sudah disediakan. Dikarenakan harus membasuh tangan dan kaki inilah banyak rakyat yang tidak mau, terutama dikalangan Hindu dan Budha. Inilah kesalahan Sunan Kudus. Beliau terlalu mementingkan pengenalan syariat berwudhu kepada masyarakat, tapi akibatnya masyarakat malah menjauh. Apa sebabnya? Karena iman mereka atau tauhid mereka belum terbina.

Maka pada kesempatan lain, Sunan Kudus mengundang masyarakat lagi. Kali ini tidak usah membasuh tangan dan kakinya waktu masuk mesjid, hasilnya sungguh luar biasa. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi undangannya, disaat inilah Sunan Kudus menyisipkan bab keimanan dalam agama Islam secara halus dan menyenangkan rakyat. Caranya menyampaikan materi cukup cerdik, ketika rakyat tengah memusatkan perhatiannya pada keterangan sunan Kudus tetapi karena waktu sudah terlalu lama, dan dikuatirkan mereka jenuh Sunan Kudus mengakhiri ceramahnya.

Cara tersebut kadang mengecewakan, tapi disitulah letak segi positipnya, rakyat ingin tahu kelanjutan ceramahnya. Dan pada kesempatan lain mereka datang lagi ke mesjid, baik dengan undangan maupun tidak, karena ingin tahu itu demikian besar mereka tak peduli lagi pada syarat yang diajukan Sunan Kudus yaitu membasuh kaki dan tangannya lebih dahulu, yang lama-lama menjadi kebiasaan untuk berwudhu.

Dengan demikian Sunan Kudus berhasil menebus kesalahannya dimasa lalu. Rakyat menaruh simpati dan menghormatinya. Cara-cara yang ditempuh untuk mengislamkan masyarakat cukup banyak. Baik secara langsung melalui ceramah agama maupun adau kesaktian dan melalui kesenian, beliaulah yang pertama kali menciptakan tembang Mijil dan Maskumambang. Didalam tembang-tembang tersebut beliau sisipkan ajaran-ajaran agama Islam.

2/20/15

Kisah Kejujuran Tsabit Bin Ibrahim

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Alhamdulillahi Robbil 'Alamiin
Jumpa lagi bersama M. Alfi Prasetiyo, semoga sehat selalu.

Sekarang Alfi akan menghadirkan kisah yang bisa jadi suri tauladan bagi kami dan anda semua, yaitu kisah dari Tsabit bin Ibrahim.

Dikisahkan, seorang lelaki shaleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah (Irak). Sedang asik berjalan, tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh. Melihat apel merah yang tergeletak di tanah, Tsabit pun bermaksud mengambil dan memakannya, terlebih hari itu adalah hari yang panas dan ia pun tengah kehausan.

Tanpa berpikir panjang, diambil dan dimakannya apel tersebut. Akan tetapi, baru setengah apel tersebut masuk ke kerongkongannya, dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin dari pemilik apel tersebut.

Dengan segera, ia pun ke kebun apel dengan niat hendak menemui pemilik apel tersebut dan memintanya menghalalkan buah yang telah dimakannya.

Di kebun itu, ia bertemu dengan seorang lelaki.

Tsabit pun berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya.”

Orang yang ditemuinya menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanyalah penjaga yang ditugaskan merawat dan mengurus kebun milik majikanku.”

Dengan nada menyesal, Tsabit bertanya lagi, “Di mana rumah majikan Anda? Aku ingin.menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.

” Penjaga kebun itu memberitahu bahwa rumah pemilik kebun tersebut cukup jauh, bahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki akan menghabiskan waktu sehari semalam.

Namun demikian, Tsabit tetap bertekad pergi, walaupun rumah orang yang dimaksud cukup jauh. Yang penting, apel yang dia makan dihalalkan.

Tsabit pun berjalan menuju rumah pemilik apel. Setibanya di rumah yang dimaksud, dia langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dari dalam rumah, muncullah seorang lelaki setengah baya.

Dia tersenyum ramah, dan berkata, “Apakah ada yang bisa saya bantu?”

Sambil membalas senyum, Tsabit bertanya, “Betulkah tuan pemilik kebun apel.yang ada di pinggiran kota Kufah?”

Laki-laki tersebut menjawab, “Benar wahai anak muda. Memangnya ada apa dengan kebun aplelku?”

Tsabit berkata lagi, “Wahai tuan, tadi saya sudah terlanjur memakan setengah dari buah apel tuan yang jatuh dari pohonnya. Karena itu, maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu?”

Lelaki tua di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat sebelum kemudian berkata,

“Tidak, aku tidak bisa.menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.”

Tsabit pun tercengang dengan jawaban lelaki tersebut.
“Syarat apa yang harus saya penuhi?” tanya Tsabit.

Lelaki tersebut menjawab,
“Syaratnya adalah engkau harus mau menikahi putriku.”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu dan dia pun berkata, “Apakah hanya karena aku memakan setengah buah apelmu, sehingga aku harus menikahi putrimu?” Yang ditanya tidak menggubris pertanyaan Tsabit.

Ia malah melanjutkan dengan berkata, “Sebelum pernikahan dimulai, engkau harus mengetahui terlebih dahulu kekurangan-kekurangan yang dimiliki putriku. Dia seorang yang.buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu, ia juga seorang yang lumpuh!”

Mendengar pemaparan pemilik.kebun tentang putrinya, Tsabit pun terkejut. Dia termenung sejenak sebelum akhirnya menyetujui syarat tersebut. “Yang penting, setengah buah apel yang dia makan dapat dihalalkan,” tekadnya dalam hati.

Tanpa menunggu waktu lama, pernikahan pun dilangsungkan. Setelah akad (nikah), Tsabit pun dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu. Tapi tak disangka, perempuan di hadapannya yang kini resmi menjadi istrinya tersebut menjawab salamnya dengan baik.

Ketika masuk hendak menghampiri istrinya, sekali lagi Tsabit terkejut karena perempuan yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan tersebut.Dia berkata dalam hatinya,
“Kata ayahnya dia perempuan tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamku dengan baik. Jika demikian berarti perempuan yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangannya. Mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya?”

Setelah Tsabit berhadapan dengan istrinya, ia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan,
“Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa?”

Perempuan di hadapannya tersenyum dan kemudian berkata, “Ayahku benar karena aku tidak pernah melihat segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah.”

Tsabit bertanya lagi,
“Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?”

Istrinya menjawab, “Ayahku benar karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat rido Allah.”

“Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya perempuan itu. Tsabit pun menganggukkan kepalanya tanda.meng-iya-kan pertanyaan istrinya tersebut.

Selanjutnya perempuan itu berkata,
“Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah. Aku juga dikatakan lumpuh, karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat tempat yang penuh dengan maksiat.”

Betapa bahagianya Tsabit, dia bukan hanya dikaruniai istri yang shalehah tapi juga cantik luar biasa.

Akhir cerita, Tsabit bin Ibrahim dikaruniai seorang putra shaleh yang kelak menjadi seorang ulama besar bernama Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit. Dia (Abu Hanifah) adalah seorang ulama atau imam yang berasal dari Kufah dan hidup pada abad ke-7 M. Sebagai ulama besar, ilmuanya menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Baca juga artikel lainnya:
» Kisah  Anak Yang Sholeh Yang Berbakti Kepada Ibunya

» Ayah Alfi Dan Mamah

Terima kasih atas kunjungannya dan semoga besar manfaatnya.

1/25/15

Mp3 Murottal Al Qur'an 30 Juz Sheikh Sa'ad Al-Ghamdi

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Alhamdulillahi Robbil 'Alamiin
Segala puja dan puji bagi Alloh dan segalanya kepunyaan Alloh SWT.

Sebelum dan sesudahnya tak lupa mengucapkan
Bismillahirrohmanirrohiim
Semoga kita selalu diberi hidayah dari Alloh di dunia dan di akhirat.

Di perjumpaan kali ini M. Alfi Prasetiyo akan menghadirkan mp3 murottal 30 juz dari Sheikh Sa'ad Al-Ghamdi, semoga Alloh selalu memberi hidayah dan pengampunan pada kita dan dirinya di dunia dan di akhirat. Amiin.

001. Surah Al Fatihah

002. Surah Al Baqarah

003. Surah Al 'Imran

004. Surah An Nisa'

005. Surah Al Ma'idah

006. Surah Al An'am

007. Surah Al 'Araf

008. Surah Al Anfal

009. Surah At Taubah

010. Surah Yunus

011. Surah Hud

012. Surah Yusuf

013. Surah Ar Ra'd

014. Surah Ibrahim

015. Surah Al Hijr

016. Surah An Nahl

017. Surah Al Isra'

018. Surah Al Kahf

019. Surah Maryam

020. Surah Ta Ha

021. Surah Al Anbiya

022. Surah Al Hajj

023. Surah Al Mu'minun

024. Surah An Nur

025. Surah Al Furqan

026. Surah Asy Shu'ara'

027. Surah An Naml

028. Surah Al Qasas

029. Surah Al 'Ankabut

030. Surah Ar Rum

031. Surah Luqman

032. Surah As Sajdah

033. Surah Al Ahzab

034. Surah Saba'

035. Surah Fatir

036. Surah Ya Sin

037. Surah As Saffat

038. Surah Sad

039. Surah Az Zumar

040. Surah Ghafir

041. Surah Fussilat

042. Surah Ash Shura

043. Surah Az Zukhruf

044. Surah Ad Dukhan

045. Surah Al Jathiyah

046. Surah Al Ahqaf

047. Surah Muhammad

048. Surah Al Fath

049. Surah Al Hujurat

050. Surah Qaf

051. Surah Adh Dhariyat

052. Surah At Tur

053. Surah An Najm

054. Surah Al Qamar

055. Surah Ar Rahman

056. Surah Al Waqi'ah

057. Surah Al Hadid

058. Surah Al Mujadilah

059. Surah Al Hashr

060. Surah Al Mumtahanah

061. Surah As Saff

062. Surah Al Jumu'ah

063. Surah Al Munafiqun

064. Surah At Taghabun

065. Surah At Talaq

066. Surah At Tahrim

067. Surah Al Mulk

068. Surah Al Qalam

069. Surah Al Haqqah

070. Surah Al Ma'arij

071. Surah Nuh

072. Surah Al Jinn

073. Surah Al Muzammil

074. Surah Al Muddaththir

075. Surah Al Qiyamah

076. Surah Al Insan

077. Surah Al Mursalat

078. Surah An Naba'

079. Surah An Nazi'at

080. Surah 'Abasa

081. Surah At Takwir

082. Surah Al Infitar

083. Surah Al Mutaffifin

084. Surah Al Inshiqaq

085. Surah Al Buruj

086. Surah At Tariq

087. Surah Al A'la

088. Surah Al Ghashiyah

089. Surah Al Fajr

090. Surah Al Balad

091. Surah Ash Shams

092. Surah Al Lail

093. Surah Ad Duha

094. Surah Ash Sharh

095. Surah At Tin

096. Surah Al 'Alaq

097. Surah Al Qadr

098. Surah Al Baiyyinah

099. Surah Az Zalzalah

100. Surah Al 'Adiyat

101. Surah Al Qari'ah

102. Surah At Takathur

103. Surah Al Asr

104. Surah Al Humazah

105. Surah Al Fil

106. Surah Quraish

107. Surah Al Ma'un

108. Surah Al Kauthar

109. Surah Al Kafirun

110. Surah An Nasr

111. Surah Al Masad

112. Surah Al Ikhlas

113. Surah Al Falaq

114. Surah An Nas

Sumber mp3 murottal dari http://freequranmp3.com/

Baca juga artikel lainnya:

» Koleksi Mp3 Gratis

Terima kasih atas kunjungannya dan semoga besar manfaatnya

1/24/15

Tembang Kenangan Sepanjang Masa

Aden Alfi


Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh
Alhamdulillah
Semoga kita selalu diberi kesehatan dari Alloh SWT. Amiin.
Jumpa lagi bersama M. Alfi Prasetiyo semoga tak bosan.
Seperti biasa Alfi sekarang mau menyuguhkan lagu tembang kenangan sepanjang masa.
Dan inilah mp3nya:
1. Angel Paff_Aduh Lelaki
2. Boy Sandi_Sahabat Pena
3. Dian Piesesha_Tak Ingin Sendiri
4. Hety Koesendang_Berdiri Bulu Romaku
5. Jayanti Mandasari_Bukit Berbunga
6. Maharani Kabar_Desember Kelabu
7. Masnie_Kereta Senja
8. Meriam Bellina_Mulanya Biasa Saja
9. Nani Sugianto_Telepon Rindu
10. Rani_Anggrek Bulan
11. Rinto Harahap_Ayah
12. Obbei Messakh_Natalia
13. Nia Daniaty_Gelas Gelas Kaca
14. Pance_Demi Kau Dan Si Buah Hati
15. Obbei Messakh_Demi Kau Bahagia
Baca juga artikel terkait lainnya:
» Koleksi Mp3 Gratis
Terima kasih atas kunjungannya dan semoga banyak manfaatnya.